Tuesday, 24 June 2014

Resensi Buku "Mengabdi di Negeri Pelangi"

Hari ini saya disambut dengan cuaca yang berubah-ubah. Kadang panas, kadang mendung. Tapi apapun cuacanya saya tetap ingin menulis hari ini karena menulis adalah cara saya untuk menikmati hari dan juga berbagi dengan banyak orang.

Kemarin saya baru menamatkan membaca buku yang sangat menginspirasi saya. Ya, buku itu berjudul "Mengabdi di Negeri Pelangi". Buku yang saya terima dua hari yang lalu. Sebuah buku yang dihantarkan oleh pak pos namun tak ada nama pengirimnya. Saya sendiri bertanya-tanya, darimana paket ini? siapa pengirimnya? ini hadiah kuis yang mana ya? banyak pertanyaan yang ada di kepala saya tapi tak ada jawabannya. Jadi lebih baik dibaca dan dibuat resensinya.



Mengabdi di Negeri Pelangi
Penerbit: Buku kompas (PT.Kompas Media Nusantara)
Penulis: Indonesia Mengajar: Diah Setiawaty, Bayu Adi Persada, Ayu Kartika Dewi, Atika Asterina Saraswati, Wildan Mahendra Ramadhani, Tika Dewi Listiarini, Nanda Yunika Wulandari, Fatia Qanitat, Agus Rachmanto, M Rangga Septyadi, Yunita Fransisca, Rahman Adi Pradana, Mutia Hapsari  
Penyunting: Budi Suwarna
Perancang Sampul: Wiko
Foto Sampul: Edward Suhadi Productions
ISBN: 978-979-709-766-0 KMN 90405130083
Halaman: 238
Tahun Terbit: 2013


Mengabdi di Negeri Pelangi. Sebuah buku yang mewakili mozaik dan potret kehidupan dunia pendidikan di pedesaan terpencil dari Sabang sampai Merauke sebagaimana yang dicatat oleh para Pengajar Muda Indonesia Mengajar. Mengabdi diujung negeri tak melulu identik dengan kemiskinan. Meski kemiskinan, minimnya fasilitas, keterbelakangan dan parahnya infastruktur merupakan fakta yang sering didapati di berbagai ujung negeri yang tak terjamah teknologi.

Di buku inilah Para Pengajar Muda Indonesia menorehkan kisah mereka. Lewat buku ini mereka mengajak kita untuk mengintip kehidupan di pelosok yang seringkali luput dari pantauan orang-orang yang hidup di kota besar. Perjuangan dan kisah mereka sangat layak untuk membuka mata anda pada pelosok negeri.

Buku ini seolah menghantarkan saya untuk flashback ke beberapa tahun lalu. Dimana ketika itu saya pernah menjadi MC sekaligus pemandu acara anak-anak TK se Kabupaten selama 1 bulan. Di acara itu, setiap hari saya bertemu dengan anak-anak TK. Setiap hari dari TK yang berbeda. Jumlahnya pun berbeda setiap hari. Tak ketinggalan tingkah mereka pun berbeda-beda sehingga setiap hari saya harus memutar akal untuk menaklukan anak-anak itu hehehe.

Tiap hari selalu diwarnai dengan suasana yang menyenangkan karena saya berhasil menaklukan hati anak-anak itu. Cara saya berinteraksi dengan mereka rasanya sangat berbeda jauh dengan guru-guru mereka yang menurut saya kurang berjiwa guru. Kenapa saya berkata begitu, karena saya menyaksikan sendiri bagaimana sang guru berkata-kata dan berinteraksi. Jauh dari yang namanya kasih sayang. Padahal menurut saya, anak-anak itu harus dihadapi dengan kasih sayang. Kiranya ini juga yang banyak dirasakan oleh penulis dalam buku ini.

Pengalaman berinteraksi dengan anak-anak memang tidak terlupakan karena saya sangat menyukai anak-anak. Jadi teringat kata-kata ibu saya "Rey kamu itu cocoknya menjadi guru, guru TK". Tiap kali mengingat kata-kata ibu, tiap kali itu pula saya rindu berinteraksi dengan anak-anak. Namun tiap kali ingin menjadi guru TK, tak sekali pula ada kesempatan karena jurusan saya sangat jauh dengan jurusan ingin menjadi seorang guru TK. Butuh waktu lagi untuk kuliah namun dana tak ada. Dan setelah membaca buku "Mengabdi di Negeri Pelangi" khayalan saya pun menerawang entah kemana. Saya jadi menghayal, andai saya ada disana bersama teman-teman Indonesia Mengajar. Tentu saya pun akan menorehkan kisah seru di buku ini.

Tak banyak typo yang saya temui di buku ini. Hanya beberapa saja seperti kata Teapi (seharusnya Tetapi hal.37), Kemampuana (seharusnya Kemampuannya hal.53), Dia kemudia (seharusnya dia Kemudian hal.149),  Yang hanya hanya bisa dinikmati (double kata hanya hal.160), selebihnya hanya kalimat dalam paragraf yang ter enter sehingga menjadi beda paragraf.

Ada beberapa kalimat menarik yang saya suka dalam buku ini. Seperti kalimat yang ditulis oleh Diah Setiawaty dalam kisahnya "Karena benda-benda menyerap energi sang pemakainya baik energi positif maupun negatif, maka paket surat berisi permen dan hadiah-hadiah juga akan membawa semangat dan hrapan bagi penerimanya. Semangat untuk terbuka, bertoleransi dengan dan menerima perbedaan".

Kalimat ini luar biasa menurut saya. Sebuah cara cerdas yang dilakukan oleh penulis ketika mengajar anak-anak. Kiranya, cara ini seharusnya diterapkan oleh banyak guru diseluruh pelosok Indonesia agar anak didik mereka lebih bersemangat untuk menuntut ilmu. Cerdas sekali caranya mengajar anak-anak.

Selanjutnya kata bagus juga saya temui dalam tulisan yang ditulis oleh Mutia Hapsari dalam kisahnya "Temukan Passionmu!". Itu adalah kalimat atau mantra ajaib yang diucapkan oleh ibu Indah. Seorang guru honor yang luar biasa cerdas. Perjuangannya untuk mewujudkan mimpi luar biasa. Dengan passion ibu Indah tak hanya menemukan mimpinya. Ia juga mengejarnya dan ketika mendapatkannya, setiap detik yang ia jalani adalah berkah dan kebahagiaan baginya. Seharusnya pendidik di negeri ini seperti ibu Indah. Atau paling tidak harus berkaca dan belajar pada sosok bernama ibu Indah.

Lain lagi dengan pengalaman Wildan Mahendra Ramadhani. Saya sempat menangkap satu kalimat yang tak kalah luar biasa dalam buku ini. "Jika melihat kondisi keluarga kami sekarang, rasanya hanya ilmu pengetahuan, pendidikan, pergaulan, dan kejujuran yang bisa kami jadikan sebagai harta warisan.". Kalimatnya tak lah sepuitis para pujangga namun kesederhanaan ucapan yang maknanya dalam itulah yang membuat saya tersentuh ketika membaca keseluruhan kisah yang ditulis oleh penulis.

Sebenarnya masih banyak kisah seru di dalam buku ini. Dan saya pastikan, anda juga akan terbengong-bengong dengan kisah yang dituliskan oleh 13 orang penulis ini. Saya sendiri sesekali merasa sangat bodoh karena tidak tahu beberapa hal hehee. Pokoknya 13 Penulis yang sangat berprestasi dan mahu mengabdikan dirinya untuk negeri selama 1 tahun ditempat yang belum mereka kunjungi ini luar biasa. Demi negeri mereka ada.

Buku ini sangat saya rekomendasikan untuk anda baca karena banyak pelajaran yang bisa kita petik dari buku ini lewat kisah-kisah yang ditulis oleh ke-13 penulis. Buku ini apa adanya namun sangat berkesan.



Post a Comment

Ucapkan Selamat Tinggal Untuk Rambut Kusam Dengan Emeron Complete Hair Care

Sebagai ibu rumah tangga yang bekerja,  tentunya rutinitas setiap hari seperti tiada habisnya. Setelah pulang bekerja aku masih harus bere...