Saturday, 21 June 2014

* Catatan Dua Hati (Ramadhan Sunyi: Detik-detik Menuju Idul Fitri) *



Setiap orang tentu memiliki hasrat yang bisa ia salurkan kepada segala hal ketika ramadhan tiba. Termasuklah kepada keluarga, kekasih, sahabat, calon mertua, alam semesta dan yang lain sebagainya. Demikian pula dengan diriku dan kakak laki-lakiku tercinta. Ramadhan adalah moment yang selalu kami nanti ketika hidup dirantau orang. Ya, ketika itu aku dan kakak tengah menempuh kuliah di Jogja beberapa tahun yang lalu. Dengan modal nekat kami pun tiba di Jogja demi mewujudkan mimpi-mimpi kami.
“Dek, nanti sore mas jemput jam 5 ya? Kita buka puasa di Masjid UGM.” Begitu sms pembuka yang kubaca dari kakak laki-lakiku tercinta. Maklumlah, jaman dulu sms saja sudah cukup. Demi pengiritan, sms adalah solusi paling pas untuk kami yang berasal dari keluarga sederhana.
“oke!” Jawabku ketika membalas sms dari kakakku tercinta. Meski jarak kos kami terbilang cukup jauh. Namun tiap ramadhan, kami banyak menghabiskan waktu bersama. Ini adalah moment indahku bersama  kakak.
Tepat jam 5 sore kakakku tiba. Kamipun segera berangkat menuju ke Masjid UGM dengan menaiki sepeda motor. Setibanya disana aku berjalan-jalan santai dengannya sembari menikmati pemandangan. Kira-kira dua puluh menit menjelang buka barulah aku dan kakak bergegas memasuki masjid. Sudah menjadi kebiasaan, kalau menjelang buka kami seringkali bertadarus. Dan setelah tharawih usai barulah kami pulang ke kos.
Selama Ramadhan paling tidak dua kali dalam seminggu aku dan kakak buka bersama. Bersafari dari masjid ke masjid. Menikmati masa ramadhan ketika jauh dari keluarga dan orang-orang yang kami sayangi. Berdua bersama kakakku. Berdua menikmati suasana dari kedamaian dan kesedihan hati kami masing-masing. Tiap kali kami mengobrol, selalu terselip kata “Rindu” pada orang yang kami kasihi. Dan ketika itu pula kakakku dengan mantab memelukku sambil berucap “Sabar dek! Mari kita nikmati ramadhan berdua disini. Seperti biasa. Seperti tahun-tahun sebelumnya. Percayalah, mereka juga pasti rindu dengan kita”. Begitulah indahnya. Kakakku selalu menguatkanku.
***
Sebenarnya aku dan kakakku tidaklah sendiri. Ada keluarga yang tinggal tak begitu jauh dari Jogja. Kami biasa menyebut mereka dengan sebutan bude dan pakde. Namun karena bertahun-tahun sebelumnya jauhnya jarak dan kami hidup sangat susah, sehingga membuat kami tak saling berkomunikasi. Perjalanan menuju kerumah bude dan pakde dengan menggunakan bis umum, kurang lebih ditempuh dengan dua jam perjalanan. Hanya saja kami jarang sekali bisa mampir kesana, menginggat uang sangu bulanan kami yang minim. Lahir dari keluarga yang sederhana membuat kami harus rela tidak pulang kampung demi bisa meneruskan kuliah. Ekonomi keluarga yang kian terpuruk membuat kami hampir beberapa kali putus kuliah.
“Dek, lebaran kali ini apa rencanamu?” Tiba-tiba kakakku bertanya padaku. Ia bertanya disela-sela obrolan kami menjelang buka puasa. Aku masih sangat ingat. Ketika itu rute safari kami adalah berbuka puasa di Masjid dekat Kerathon Jogja dan kami sedang duduk berdua dibangku taman. Kakak laki-lakiku itu bertanya sembari memeluk pundakku dari samping.
Mendengar pertanyaan kakakku, aku sempat diam sejenak. Mendengar kalimat Idul Fitri selalu saja membuat hatiku terenyuh. “Bagaimana kalau kita berlebaran ke tempat bude dan pakde mas? Toh kita belum pernah berlebaran kesana” Usulku padanya. Namun kakakku diam sehingga aku berkata lagi.
Kakakku menghela nafas panjang. “Dek, mas bukannya tidak mau berlebaran kesana. Tapi apa dirimu lupa. Beberapa kali kita main kesana tapi kita selalu dianggap seperti tamu. Ketika Gempa Jogja yang begitu dasyat pun mereka tak sekalipun menjenguk kita. Bahkan tak sekalipun menanyakan kabar kita. Padahal mereka orang kaya, jauh lebih mampu ketimbang kita yang hidup susah ini!” Perlahan kakakku berkata padaku sembari mengusap bahuku lembut.
Mendengar perkataan kakakku aku diam beberapa saat. Pikiranku melayang ke beberapa waktu sebelumnya. Waktu dimana beberapa kali aku dan kakak bersilahturahmi kerumah bude dan pakde. Aku masih ingat ketika itu libur panjang tiba. Pertama kalinya kami bersilahturahmi. Namun sesampainya disana ternyata ada keluarga yang lain juga yang datang dari Jakarta. Keluarga yang tak pernah kami temui sebelumnya. Dan ketika itu, betapa aku dan kakak yang datang dari kampung ini tak dihiraukan. Kami tak sekalipun diajak jalan-jalan sedang mereka jarang dirumah. Mungkin karena kami tak pernah bertemu sebelumnya.
Bukannya sombong, tapi aku dan kakak terkenal gampang bergaul dengan siapapun dan dimanapun.  Namun kenapa dengan mereka malah tak bisa? Gaya mereka yang terlalu glamour dan seksi itu kiranya tidak cocok dengan style kami yang sederhana ini. Alhasil, Cuma tiga hari saja aku dan kakak liburan disana. Selebihnya kami membuat alasan masuk akal yang bisa membuat kami segera atau harus kembali ke Jogja.  Paling lama selalu tiga hari. Tak pernah lebih dari itu.
“Iya mas, aku sangat ingat sikap mereka pada kita. Tapi tak ada salahnya kita coba mampir sebelum Idul Fitri. Siapa tahu mereka bertobat. Mereka hanya orang-orang yang hatinya jauh dari Tuhan.“ Ujarku pada kakakku itu. Dan setelahnya, akhirnya kakakku sepakat untuk berlebaran kesana.
***
Dua hari menjelang ramadhan. Aku dan kakakku tiba dirumah bude dan pakde. Betapa mirisnya hati kami. Ternyata pakde tak pernah berpuasa, sholat ataupun mengaji. Masih mending bude yang sesekali mau karena malu dan tak enak hati melihat kami berdua. Pantas saja suasana rumah ini tak pernah terasa adem dan damai, batin kami. Dan apesnya, lagi-lagi ketika kami bersilahturahmi kesana, keluarga dari Jakarta itu datang juga. Alhasil dapat ditebak kan seperti apa suasananya? Mereka tak ada yang berpuasa, sholat ataupun mengaji. Aku dan kakak hanya bisa beristigfar dalam diam dan do’a kami masing-masing pada kami.
Satu hari berlalu semenjak kedatangan kami. Tak terasa ketika itu adalah puasa terakhir. Dimana setelah berbuka, maka malam takbir pun berkumandang di seantero kota. Buka terakhir hanya ada aku dan kakak karena yang lain sudah pergi sejak sore hari. Toh mereka juga tak berpuasa, jadi apa pentingnya puasa terakhir. Ketika itu, mereka bersama-sama menikmati akhir ramadan entah kemana. Mereka hanya berpesan ingin melihat pawai takbir sebelum berangkat.
Buka puasa terakhir kami berdua dinikmati dengan meneguk teh hangat. Setelah itu kami sholat magrib berjama’ah. Usai sholat magrib barulah kami menyantab makanan seadanya dan secukupnya, karena sudah menjadi kebiasaan kami kalau ramadhan bukanlah ajang makan besar seperti kebanyakan orang. Seperti tetanggaku dikampung misalnya, tiap ramadhan yang diutamakan pastilah hunting makanan di Pasar Bedug. Begitu kami biasa menyebut pasar khusus menjual menu buka puasa ketika ramadhan tiba. Tapi bagi kami, ramadhan adalah ajang untuk instropeksi dan memperbaiki diri, bukan serba wah.
Karena bude dan pakde bawa kunci cadangan, jadi kami tidak usah repot-repot untuk membukakan pintu kalau mereka nanti pulang terlalu larut. Usai sholat isya berjama’ah kami mengaji bersama. Setelahnya kami menonton tivi sejenak, sebelum akhirnya beranjak untuk istirahat. Aku tidur sekamar dengan kakakku ketika itu. Disitulah lagi-lagi kami berbincang-bincang. Aku masih ingat semua kata-katanya yang syahdu.
“Dek. Mas rindu rumah. Rindu bapak dan ibu juga kedua adik kita. Dan mas tahu dirimu pasti juga rindu kan?. Suara takbir membuat hati mas terenyuh. Maafkan mas ya karena belum bisa menghantarkan kita untuk lebaran dikampung tahun ini? Maafkan mas, kalau lagi-lagi kita harus lebaran dengan situasi yang tidak menyenangkan seperti ini. Tapi mas bahagia karena masih bisa berlebaran dengan dirimu. Adik perempuan yang mas sayangi.”
Usai berkata begitu, dengan disaksikan kedua mataku. Untuk pertama kalinya aku melihat matanya memerah. Aku tau, dia pasti sangat sedih karena menahan rindu. Sama dengan diriku. Hanya saja dia laki-laki, jadi taklah lebay seperti diriku yang gampang sekali menangis. Kalau rindu dengan orang yang aku sayangi (ketika mendengar suara takbir) pasti aku terharu.  Dan ramadhan kali in tetap sunyi. Hanya hati kami yang tak sunyi karena dipenuhi dengan do’a-do’a untuk orang yang kami sayangi dikampung halaman.

“Dan, malam itu, kurangkai jerit suara dua hati dalam benakku. Kutanam ia dilubuk hati paling dalam, agar suatu hari kami akan tetap mengingat masa indah ini. Masa dimana aku dan kakakku menikmati ramadhan bersama. Dulu kami menikmati ramadhan bersama, namun 5 tahun terakhir ini ramadhan taklah sama seperti dulu. Aku menikmatinya bersama ibu, bapak dan kedua adikku, sedang kakak laki-lakiku tercinta harus melewati semuanya sendiri di Jogja. Tak ada lagi aku disampingnya. Tak ada lagi aku, tempat dia berkeluh kesah dan menghibur diri. Ramadhan tetaplah sunyi. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya Tak ada yang lebih indah ketika bisa berkumpul bersama dengan orang yang kita cintai. Dan ramadhan, kami tetap belum sempat untuk berkumpul bersama, sekeluarga.”
           

Catatan Dua Hati, Syawal 1428 Hijriyah
Post a Comment

Ucapkan Selamat Tinggal Untuk Rambut Kusam Dengan Emeron Complete Hair Care

Sebagai ibu rumah tangga yang bekerja,  tentunya rutinitas setiap hari seperti tiada habisnya. Setelah pulang bekerja aku masih harus bere...